Sejarah Siraja Lontung SI SIA SADA INA, Dan Pomparan Siraja Lontung

Advertisement
Untuk mengetahui Sejarah Si Raja Lontung maka kita akan tahu dulu dari mana asalnya siraja lontung. Jadi siraja lontung berasal dari Keturunan GURU TATAE BULAN.

Guru Tatea Bulan memiliki putri, yang salah satu namanya adalah Boru Pareme. Saribu Raja dan Siborupareme adalah anak kembar. Tidak seperti Saudara Kandung (Namariboto) pada umunya yang dimana saling menjaga dan saling segan, Boru Pareme dan Saribu Raja malah sangat kompak dan saking kompaknya mereka malah terlihat seperti Marpariban (sepupu).
Patung perunggu berukuran besar menghiasi pelataran Museum Batak di Balige, tepatnya di tepi Danau Toba, Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara

Dan saking kompaknya rupanya mereka sudah saling jatuh hati dan benar saja, Mereka terbawa suasana sehingga Terjadi perbuatan yang tidak diinginkan dan sangat melanggar aturan, Adat pada saat itu, Sehingga mereka mencoreng nama keluarga penghulu Sianjur mulamula. Siboru pareme pun mengandung anak dari saribu raja dan peristiwa ini yang membawa malapetaka bagi keduanya. Keduanya tak mampu menahan diri mereka, keduanya bercinta disaksikan alam Pusuk Buhit.

Semakin lama, ulah mereka mulai tercium oleh siraja batak yang mulanya mereka sembunyikan. Tapi bagaimanapun, Kebohongan itu sampai ke telinga Siraja Batak. Oleh karena itu, Siraja Batak, sang penguasa Sianjur mulamula marah. Perbuatan yang dianggap biadab itu harus diganjal hukuman dengan membunuh keduanya: Akhirnya adik kandung dari Saribu Raja berencana untuk membunuh kakaknya, karena melanggar Hukum kuno yang sudah dijejakkan oleh Debata Mula Jadi Nabolon, bahwa yang sedarah tidak bisa menikah. Akan tetapi, membunuh Saribu Raja bukanlah urusan mudah.

Selain karena mereka masih terikat oleh hubungan darah, kedigdayaan Saribu Raja juga perlu diperhitungkan. Sementara mereka menyusun cara untuk melakukan pembunuhan tersebut, rencana itu dibocorkan oleh anak bungsu Lauraja. Pembocoran rencana ini sempat mengakibatkan hubungan ketiga bersaudara ini menjadi renggang. Saribu Raja sadar akan kesalahannya, akhirnya satu-satunya jalan ialah melarikan diri dan menjauh dari amarah saudara-saudaranya tersebut. Saribu raja lari meninggalkan Sianjur mula-mula dan pergi menuju arah Barus, sementara Siboru Pareme yang dengan hamil tua laria ke tengah hutan belantara Sianjur mulamula.

Di tengah hutan, si Boru pareme bertemu dengan seekor harimau (Babiat), penguasa hutan belantara tersebut. Harimau ini disebut dengan Babiat Sitelpang. Sangharimau mendekati boru pareme. Siboru Paremepun ketakutan, namun karena kondisi yang sedang hamil tua dan lemah, Boru Pareme pun pasrah akan nasibnya.  Sang harimau makin dekat, entah itulah yg disebut takdir, ternyata sang harimau datang bukanlah untuk memangsa. Sang harimau perlahanlahan membuka mulutnya sambil menunjukkan tulang-belulang yang sangkut di kerongkongannya pada boru pareme. Siborupareme mengerti benar maksud si harimau.

Siborupareme pun tak takut lagi memasukkan tangannya ke dalam mulut harimau untuk menarik tulang tersebut, yang sejak dua hari lalu sudah membuat dia tersiksa. Kali ini nasib Siborupareme mujur, bukan air susu dibalas air tuba,  Babiat Sitelpang pun menjadi penolong bagi Boru Pareme sampai dia melahirkan, dan lahirlah Raja Lottung.

Di hutan belantara itulah, dari kecil sampai dewasa, Siraja Lontung dibesarkan alam yang keras, dilatih menaklukkan hutan oleh ibunda Siborupareme dan Babiat Sitelpang yang menjadi sahabatnya.

Setelah dewasa, Siraja Lontung ingin mencari pasangan hidup. Dia ingin mencari pariban-nya, putri dari Pamanya (putri dari Saudara laki-laki ibunya), untuk dijadikan istri, atau parsinonduk bolon. Boru Pareme takut menunjukkan keberadaan dari keluarga yang sebenarnya yang pernah diusir oleh Ibotonya. Akhirnya si Boru Pareme mencari akal, dia menyuruh anaknya si Raja Lottung ke sebuah permandian, yang sekarang dikenal dengan Aek sipitu dai (tujuh rasa), (dulu tempat pemandian boru pareme). Boru Pareme memberi arahan pada anaknya:
“Anakku, pergilah ke pemandian yang ada di sana, tempat putri pamanmu mandi. Carilah yang mirip seperti mamakmu ini, tegurlah dia, sampaikanlah pesanku ini lalu pasangkanlah cincin ini ke jarinaya (sambil memberikan cincinya). Bila cincin ini cocok di jarinya, itulah paribanmu boru dari pamanmu, lalu ajak dan bawa lah dia ke sini”. Begitulah pesan dari si boru pareme.

Maka berangkatlah Siraja Lontung menuju ke Aek Sipitudai tersebut. Namun tanpa sepengetahuan Siraja Lontung, ibunya pun langsung pergi mendahului Siraja Lotung ke Aek Sipitudai dengan melintasi jalan lain. Dengan waktu yang sudah diatur, sampailah ibunya terlebih dahulu ke Aek Sipitudai tersebut dan mandi-mandi menunggu datangnya Siraja Lontung yang kini sudah menjadi pria dewasa. Sampai di pancuran Aek Sipitudai, Siraja Lontung sontak heran melihat gadis persis seperti ibunya. Siraja Lontung mendekati perempuan yang sedang mandi itu. Ditemuinyalah perempuan tersebut dan ditegurnya, seperti pesan ibunya Siborupareme, Perempuan yang sedang mandi itu (tidak lain adalah ibu kandung si Raja Lottung sendiri), Si Boru Pareme memang terlihat cantik dan tidak terlihat seperti ibu-ibu. Demikianlah yang dilakukannya. Semuanya cocok denga apa yang diisyaratkan oleh ibunya sebelumnya. Lalu, dipasangkanlah cincin yang dibawanya pada tangan perempuan itu. Perempuan itu lantas dia bawa lah perempuan itu dan dijadikannya menjadi istri.

Begitulah Silsilah si Boru Pareme yang telah menikah dengan saudaranya sendiri (ibotonya) dan selanjutnya dengan terpaksa harus dinikahi oleh anaknya sendiri Si Raja Lottung.

Konon, hasil dari perkawinan mereka lahirlah anak-anak dari si Raja Lottung yang dikenal dengan “

LOTTUNG SI SIA SADA INA”
LOTTUNG SI SIA SADA INA

Lottung si Sia Sada Ina, memiliki pengertian yang sangat mendalam, yaitu sembilan (sia) orang ber ibukan (marinahon) si Boru Pareme , (Sia Sada Ina / Sembilan Satu Ibu). Kesembilan orang yg dimaksud yg menjadi anak dari si Boru Pareme itu adalah:  terdiri dari delapan orang (7 putra dan 1 putri = 8 orang) anak dari si Boru Pareme dari suaminya si Raja Lottung , ditambah si Raja Lottung itu sendiri yang juga anaknya dari suaminya Saribu Raja (ibotonya), semuanya menjadi sembilan orang ber ibukan  si boru pareme. Ketujuh putra dari si Raja Lottung tersebut adalah:

1. Toga Sinaga

2. Tuan Situmorang,

3. Toga Pandiangan,

4. Toga Nainggolan,

5. Simatupang,

6. Aritonang

7. Siregar.

Putri dari Si Raja Lottung, pernah kawin 2 (dua) kali, yang pertama sama marga Sihombing dan disebut dengan si Boru Anak Pandan, dan kemudian kawin lagi dengan marga Simamora, dan disebut dengan si Boru Panggabean

Versi lain:
Lottung si Sia Sada Ina diartikan sederhana oleh beberapa orang, yang memaknai bahwa 9 (sembilan) anak dari si Raja Lottung dan si Boru Pareme, yang terdiri dari 7 (tujuh) putra dan 2 (dua) putri

Kedua putri dari si Raja Lottung dan Boru pareme yg dimaksud adalah:

1.    Si Boru Anak Pandan ( tu marga Sihombing )
2.    Si Boru Panggabean ( tu marga Simamora )

Demikianlah Sejarah Siraja Lontung SI SIA SADA INA, Dan Pomparan Siraja Lontung yang bisa kami berikan. Mohon koreksinya jika dalam penulisan Admin terdapat kesalahan. Terimakasih.

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Sejarah Siraja Lontung SI SIA SADA INA, Dan Pomparan Siraja Lontung"

Berkomentarlah Sesui Topik.
Jangan Promosi donk Disini!!!!
Yang Melakukan Spammer Langsung Kami Hapus.
Terimakasih, Horas, Mauliate.