Ini Kisahnya Mengapa Nainggolan Dan Siregar Marpadan, Mengikat Janji

Advertisement
Apa itu padan batak?
Padan adalah janji, satu pendapat, bersetuju, bersehati, dan berdamai Lebih jauh, pengertian padan adalah ikrar janji yang telah diikat oleh leluhur orang Batak terdahulu yang mengharamkan pernikahan kedua belah pihak dengan maksud menjaga hubungan baik di antara keduanya.

Makna padan setara dengan kuasa Tuhan yang memiliki pengaruh besar bagi yang melakukan kesepakatan tersebut. Ketika kita menjaga, menghormati, dan menjunjung tinggi wewenang Tuhan, demikian juga kita seperti menjaga, menghormati, dan menjunjung tinggi wewenang padan.

Pada postingan kali ini admin akan memberikan jawaban mengapa Nainggolan Dan siregar marpadan.

Toga Siregar mempunyai 2 Isteri yaitu :
  1. Siboru Panggabean Boru Limbong
    Dari Istri pertama ini lahir 2 putra, yaitu SILO dan DONGORAN Akan tetapi setelah anak kedua dilahirkan beliau meninggal dunia, dan Toga Siregar meikah lagi dengan dengan adiknya, Siboru Pandan So Malos Boru Limbong (ganti tikkar).
  2. Siboru Pandan So Malos Boru Limbong.
    Dari istri kedua ini, lahirlah dua putra, SILALI dan SIAGIAN.

Silahkan baca: Silsilah/Tarombo Toga Siregar Lengkap

 Parpadanan Nainggolan dan siregar berkisah dari Istri Siregar dan Istri Nainggolan Parhusip. Sama seperti Ibu-ibu zaman sekarang, tentunya berharap dikeluarga kehadiran anak laki-laki dan perempuan.

Berawal dari masalah kehadiran anak, maka istri Nainggolan parhusip dan istri siregar sekongkol bertkar Bayi. Dimana istri dari Nainggolan Parhusip merindukan kehadiran seorang anak perempuan di tengah keluarganya, sementara istri Siregar sebaliknya merindukan kehadiran seorang anak laki-laki. Beberapa anak yang dilahirkan Istri Nainggolan parhusip, semua berjenis kelamin perempuan. sementara stri Toga Siregar, yang juga belum melahirkan seorang anak laki-laki, menjadi kekhawatiran tersendiri baginya, karena dia adalah istri yang kedua, sementara istri Siregar yang pertama, telah melahirkan dua anak laki-laki.

Ilustrasi dilarang menikah
Ilustrasi dilarang menikah

Pada suatu kesempatan tanpa diduga mereka berdua sama-mengandung dan berharap bahwa yang dilahirkan Naingolan parhusip adalah perempuan dan Siregar adalah laki-laki. Namun kenyataanya terbalik.  Ketika saat persalinan tiba, semua harapan menjadi sirna. Istri Siparhusip tetap saja melahirkan anak laki-laki, dan istri Siregar melahirkan anak perempuan. Rupanya Sibaso (Paraji – red), wanita yang membantu persalinan mereka berdua adalah orang yang sama, sosok yang tau persis, keluhan dari kedua wanita itu. Dan, atas petunjuk dari Sibaso/Paraji tersebut, peristiwa besar itupun terjadi.

Dibantu Sang Sibaso, kedua wanita itu membuat kesepakatan, dan kedua anak yang baru saja dilahirkan kemudian ditukar, anak laki-laki yang dilahirkan istri Siparhusip diberikan kepada istri Siregar, dan anak perempuan yang dilahirkan istri Siregar diserahkan kepada istri Siparhusip. Dikabarkan juga, tidak ada yang mengetahui peristiwa itu terjadi, selain tiga orang perempuan, yakni istri Nainggolan Parhusip, istri Toga Siregar dan Sibaso yang membantu persalinan mereka.

Peristiwa besar itu ditandai dengan datangnya ronggur (petir – red) menggelegar, yang membuat seisi wilayah itu terkejut pada siang itu, karena suara itu memekakkan telinga, sampai membuat telinga seperti hendak pecah. Seluruh warga yang mendengar suara itu, memastikan bahwa telah terjadi peristiwa tidak lazim. Hanya saja mereka tidak tau, peristiwa apa yang telah terjadi dan dimana peristiwa itu berlangsung.

Selain membuat penduduk desa terkejut, suara petir itu juga membuat Siparhusip dan Siregar, serta para nelayan yang sedang mencari ikan di tengah danau terkejut bukan kepalang. Hal itu membuat mereka menjadi takut, lalu menepi ke pantai dan pulang ke rumah masing-masing.

Betapa riangnya hati Siparhusip dan Siregar, setelah mereka tau istri mereka melahirkan anak dengan selamat. Mereka sama sekali tidak tau hari itu istri mereka telah melahirkan, kalau warga desa tidak memberitahukannya. Mendengar berita bahagia itu, mereka berdua semakin mempercepat langkah, agar tiba di rumah lebih cepat.

Setibanya di rumah, Siparhusip segera menghampiri istrinya, lalu mengucapkan selamat, yang ia ungkapkan sebagai wujud sukacita. Rasa sukacita Siparhusip semakin bertambah-tambah, setelah ia tau anaknya yang lahir adalah seorang perempuan. Tetapi, semakin ia memperhatikan anak itu, rasa suka cita yang sedari tadi menghiasi wajah Siparhusip mulai berubah. Ekspresi wajah Siparhusip semakin menunjukkan rona kecurigaan, ketika semakin ia menatap anak perempuan yang baru lahir itu.

Melihat gelagat suaminya yang mulai curiga, istri Siparhusip mulai gelisah. Kegelisahan itu semakin meningkat dan berubah menjadi rasa takut, ketika tiba-tiba petir kembali menggelegar hingga membuat bayi perempuan itu kaget lalu menangis. Sementara itu, kecurigaan Siparhusip semakin meningkat seiring dengan suara petir yang datang secara tiba-tiba, membuat ia semakin percaya kepada kata hatinya, bahwa bayi perempuan itu bukanlah darah dagingnya.

Tidak menunggu lama, istri Nainggolan Parhusip segera bangkit dan menghampiri suaminya, lalu membungkuk dan sujud, seraya menuturkan peristiwa yang sudah terjadi, kemudian memohon ampun atas segala dosa yang telah ia lakukan, karena ia telah bertindak terlalu jauh, tanpa sepengetahuan suaminya.

Melihat ketulusan hati istrinya untuk memohon ampun, Siparhusip mengurungkan niat untuk menghukum istrinya, lalu meraih bayi perempuan itu dari sisi istrinya, kemudian membawa pergi menuju kediaman Siregar. Nainggolan Parhusip berniat untuk menukar kembali bayi perempuan, dengan bayi laki-lakinya yang ada pada keluarga Siregar.

Melihat Siparhusip muncul diambang pintu rumahnya dengan membawa bayi, istri Siregar mendadak ketakutan. Ia sadar, rahasia yang ia simpan bersama istri Si Parhusip tentang pertukaran bayi sepertinya telah terbongkar. Melihat gelagat Siparhusip sudah siap untuk angkat bicara, istri Siregar segera bangkit dari tempatnya, lalu tunduk dan sujud di hadapan suaminya. Istri Siregar juga menjelaskan dengan rinci peristiwa yang telah terjadi, dan mengakui segala kesalahan yang telah ia lakukan, lalu memohon ampun kepada suaminya atas tindakan itu.

Toga Siregar sangat terkejut mendengar penjelasan dari istrinya, sehingga membuatnya tak mampu bicara walau sepatah kata. Pengakuan istrinya membuat dirinya terkulai lemas, sebab anak laki-laki mereka bukanlah anak yang lahir dari rahim istrinya, melainkan dari rahim istri Siparhusip. Melihat situasi yang semakin tidak menentu, Siregar hanya bisa berserah kepada Yang Maha Kuasa. Ia pasrah kalau Siparhusip sampai melampiaskan amarah kepada dirinya. Ia sangat sadar, bahwa istrinya telah bertindak melampaui batas.

Melihat Siregar pasrah dalam ketidak berdayaan, kemudian Nainggolan Parhusip angkat bicara. Dia menyesalkan semua tindakan para istri, karena bertindak tanpa melakukan musyawarah terlebih dahulu dengan para suami mereka. Jika keinginan itu dibicarakan dengan baik, tentu ada hal yang membuat pembicaraan berakhir dengan mufakat. Begitu Si Parhusip menuturkan kata, yang sedari tadi dipendam di dalam hati.

Kemudian Nainggolan Parhusip membuat pernyataan yang mencengangkan, bahwa sejak saat itu, Siregar harus menjadi adiknya lalu mengangkat sumpah, bahwa sejak saat itu pula, anak laki-laki keturunan Nainggolan Parhusip tidak boleh mengawini anak perempuan Siregar Silali, dan begitu juga sebaliknya, anak laki-laki keturunan Siregar Silali tidak boleh mengawini anak perempuan Nainggolan Parhusip. Dan sejak saat itu, bayi laki-laki yang diserahkan Siparhusip kepada Siregar, resmi diberi nama Silali.

Masih mendekap bayi perempuan Siregar, Nainggolan Parhusip melanjutkan pernyataannya, bahwa sejak saat itu anak perempuan Siregar menjadi anaknya, dan anak laki-lakinya sendiri ia serahkan menjadi anak Siregar. Mendengar pernyataan Siparhusip, Siregar dan istrinya menjadi lega, dan mereka berdua bangkit dari tempatnya secara bersamaan dan sujud di hadapan Nainggolan Parhusip, lalu menyatakan menerima sumpah (padan – red) sebagai sumpah bersama, dan menjadi sumpah secara turun-temurun bagi keturunan Nainggolan Parhusip dan Siregar Silali.

Ilustrasi dilarang menikah
Ilustrasi dilarang menikah
Sampai saat ini marga Nainggolan Parhusip dan Siregar Silali belum pernah ada yang menikah. Memang dahulu hanya marga Nainggolan Parhusip dan Siregar Silali yang memegang padan namun sekarang ini semua marga Nainggolan yang terdiri dari Nainggolan Batuara, Nainggolan Lumban Tungkup, Nainggolan Lumban Raja, Nainggolan Hutabalian, dan Nainggolan Lumban Siantar beserta marga Siregar Silo, Siregar Dongoran, dan Siregar Siagian sudah bersatu dimanapun mereka berada sehingga padan sekarang bukan hanya milik dari Nainggolan Parhusip dan Siregar Silali saja namun juga untuk semua marga Nainggolan dan Siregar lainnya.

Silahkan baca: Nainggolan: Tarombo marga Nainggolan

Didaur ulang dari berbagai sumber, salah satunya: http://silabannainggolandansiregar.blogspot.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ini Kisahnya Mengapa Nainggolan Dan Siregar Marpadan, Mengikat Janji"

Post a Comment

Berkomentarlah Sesui Topik.
Jangan Promosi donk Disini!!!!
Yang Melakukan Spammer Langsung Kami Hapus.
Terimakasih, Horas, Mauliate.